Merendam Kaki di Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda


Merendam Kaki di Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda. Ae Sale Mengeruda? Mungkin satu dua Orang Flores pun bakal geleng-geleng kepala mendengar nama Ae Sale Mengeruda. Tapi kalau Air Panas Soa (baca: So'a) semua Orang Flores pasti tahu. Obyek wisata Ae Sale Mengeruda memang lebih terkenal dengan nama Air Panas Soa karena obyek wisata air panas yang satu ini memang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaen Ngada, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Seperti yang sering saya tulis, nama obyek wisata seringkali melekat dengan nama lokasi dan/atau kondisi obyek wisata tersebut berada. Seringkali, berarti tidak semua. Contohnya, Teh? Ada donk. Contohnya Danau Kelimutu. Diberi nama Kelimutu karena terletak di Gunung Kelimutu. Simple. Haha *dilempari batako sama dinosaurus*.


Sudah lama saya ingin pergi ke Ae Sale Mengeruda. Tapi selalu saja gagal alias batal karena berbagai sebab. Akhirnya keinginan saya itu terwujud pada Minggu, 27 Oktober 2019, saat cuaca sedang sangat cerah. Teman jalan saya selain Thika Pharmantara adalah Yusti Ambuwaru si pemilik Kafe Hola. Soal kepangkatan dalam hubungan darah, Yusti harus saya panggil Bibi, tetapi bibir bedebah kami sulit sekali menghormati kepangkatan itu, haha. Kami bersahabat sejak masih SMA!

Bagaimana keseruan perjalanan kami ke Ae Sale Mengeruda? Marilah dibaca sampai selesai.

Ende - Aigela - Boawae


Perjalanan yang seharusnya dimulai pukul 08.00 Wita tertunda hingga pukul 09.30 Wita. Maklum, Yusti harus mengurus rumah tangga dan pesanan kudapan terlebih dahulu. Berangkat ke arah Barat Kabupaten Ende, tujuan pertama kami adalah percabangan Aigela yang merupakan wilayah Kecamatan Nagekeo. Iya, ini check point tempat kami melepas lelah sekaligus menikmati jagung pulut rebus beserta sambal, dan kopi. Tapi hari itu kami tidak meminum kopi karena saya sendiri juga membawa botol minum berisi kopi susu.


Dari Aegela, setelah kami menjadi obyek tontonan orang-orang gara-gara ngakak tak karuan, perjalanan dilanjutkan ke Kota Boawae di Kecamatan Boawae. Kenapa kami justru ke Kota Boawae, bukannya langsung ke Kota Bajawa sebagai Ibu Kota Kabupaten Ngada? Bukankah menurut kabar yang beredar, kalau mau pergi ke Ae Sale Mengeruda harus masuk ke Kota Bajawa terlebih dahulu? Mari tengok penjelasan pada peta di bawah.


Menuju Ae Sale Mengeruda dapat ditempuh lewat dua jalur. Kalau kalian datang dari arah Barat, otomatis untuk tiba di Ae Sale Mengeruda harus melewati Kota Bajawa dan Bandara Turelelo (Soa). Kalau kalian datang dari arah Timur, cukup sampai Kota Boawae saja, karena dari kota kecamatan tersebut, ada jalur khusus menuju Ae Sale Mengeruda.


Otomatis, karena kami datang dari arah Timur, akan lebih cepat jika melewati jalur Boawae - Soa ketimbang harus memutar terlebih dahulu ke Kota Bajawa. Karena, dari Kota Boawae ke Kota Bajawa itu jauh, bung! Dari Kota Boawae, setelah melewati Gereja St. Fransiskus Xaverius Boawae yang identik dengan atap biru itu, akan ketemu cabang jalan menuju Pasar Boawae. Tidak perlu bingung, dari cabang pasar tersebut, satu jalur ke arah Barat merupakan jalan menuju Ae Sale Mengeruda. Ikuti jalan aspal selebar sekitar dua meter yang melintasi perbukitan mempesona.


Soal perbukitan mempesona ini, saya lewati dulu, karena memang dalam perjalanan menuju Ae Sale Mengeruda kami hanya mampir dua menit untuk foto, perjuangan memperoleh foto-foto keren justru dalam perjalanan pulang.

Ae Sale Mengeruda


Musim panas memang menyengsarakan. Seringkali saya alami ketika pergi ke Kota Mbay. Mana panas, mana debu, mana takut hitam. Tapi dalam perjalanan menuju Ae Sale Mengeruda, panasnya tak tertahankan, hingga wajah seperti disemprot oleh api dari Pangeran Zuko, pangerannya Negara Api. Haha. Semua letih terbayarkan ketika melihat entrance Ae Sale Mengeruda. Ae Sale Mengeruda terletak di Desa Piga, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada.


Parkiran obyek wisata ini ditata menarik dengan pohon-pohon besar menaungi.


Ada dua baliho gede dipajang. Yang kiri berisi foto/informasi obyek wisata di Kabupaten Ngada. Wah, mana saja yang sudah pernah saya kunjungi ya? Dan ternyata ... Kampung Adat Bena tidak ada di dalam baliho tersebut. Saking banyaknya! Makanya yang dipilih adalah obyek-obyek wisata baru di Kabupaten Ngada. Selain parkiran yang sejuk, di sekitar parkiran juga ada lapak-lapak/kios mini dengan barang dagangan umumnya air minum, minuman berasa dalam kemasan, es krim, hingga ragam cemilan. Saking tidak tahan sama panasnya, Thika meninggalkan saya dan Yusti demi mengerjar sebotol teh dingin. Uh lala.



Saatnya membeli karcis masuk!



Saat membeli karcis masuk, pengunjung juga sekalian diberikan karcis parkiran. Karcis masuk untuk wisatawan domestik dipatok 10K/orang, sedangkan kendaraan roda dua dipatok 3K/perorang. Hari itu kami membayar total untuk tiga orang dewasa dan dua sepeda motor sejumlah 36K saja. Murah. Menurut saya. Seperti yang sudah sering saya tulis, setiap tempat wisata kan mempunyai manajemen dan regulasinya masing-masing terkait karcis masuk.


Oh ya, di dekat loket penyerahan karcis masuk ada simbol adat Kabupaten Ngada, disebut ngadu. Ngadu yang ini ada tangannya, sedangkan yang sering saya lihat di Kecamatan Aimere, tidak ada tangannya. Temannya ngadu disebut bagha, berbentuk seperti rumah mini. Ngadu adalah simbol leluhur lelaki sedangkan bagha adalah simbol leluhur perempuan. Itu berdasarkan informasi dari teman-teman.


Di pintu masuk Ae Sale Mengeruda ada loket penyerahan karcis masuk. Petugasnya ramah dan masih usia muda juga. Dari pintu masuk ini, ada balai yang cukup luas untuk beristirahat.



Keluar balai ini pemandangan yang disajikan adalah taman. Ya itulah yang saya tangkap dari konsep Ae Sale Mengeruda. Lokasi ini terbagi-bagi: petak taman bunga, petak tanaman buah (ada nanas loh!), petak tempat gazebo, dengan jalan-jalan setapak yang menghubungkan antara satu petak dengan petak lainnya, juga jembatan.



Ada dua aliran air yang nantinya bertemu di bagian bawah, di dekat air terjun super mininya. Aliran air pertama datang dari arah Timur, aliran air utamanya datang dari arah Utara. Kami lantas memutuskan untuk bersantai di aliran air panas utamanya, meskipun di sana juga sudah ada banyak orang berendam, hehe.




Buka sepatu dan kaos kaki, langsung rendam kaki! Loh? Tidak ikut berendam? Taaaak. Tujuan utama saya ke Ae Sale Mengeruda bukan untuk merendam bodi, tetapi untuk merendam kaki saja, hehe. Lagi pula kala soal berendam, di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, kan sudah ada pula mata air panasnya. Sensasinya kira-kira sama lah. Merendam kaki sambil menikmati es krim dan dilihatin orang-orang itu juga menghadirkan sensasi tersendiri. Meskipun airnya sedap, tidak seberapa panas, tapi rasanya segar sekali di kaki. Sumber air panas ini adalah Gunung Inelika. Mungkin karena panasnya tidak sampai bikin kulit melepuh, yang saya tulis sedap, makanya air panas di lokasi ini dipercaya bisa dijadikan terapi dan menyembuhkan berbagai penyakit. Menurut saya yang paling utama pasti penyakit kulit.

Puas merendam kaki dan mengeksplor sekitar lokasi Ae Sale Mengeruda, kami memutuskan untuk pulang, tetapi saya harus mengabadikan arus deras di air terjun super mini (boleh disebut ini ya, soalnya saya belum menemukan padanan kata yang pas).




Marilah kita pulang kembali ke Boawae, dan melewati perbukitan ausam di jalur Boawae - Soa!

Negerinya Para Petualang


Jalur Boawae - Soa punya cerita tersendiri. Jalur ini mengitari perbukitan dengan lebar jalan yang hanya sekitar dua meter saja, serta menyajikan pemandangan menarik yang harus dinikmati. Karena sedang musim panas, perbukitannya didominasi warna kuning/emas. Saya yakin, kalau musim hujan, perbukitan ini pasti menghijau membikin mata hijau lebih segar. Ada sebuah bukit yang sejak awal seolah-olah memanggil kami untuk pergi ke situ. Inilah negerinya para petualang.



Ternyata nama bukit ini adalah Bukit Cinta atau Bukit Teletubbies. Again!? Haha. Kenapa banyak sekali kah Bukit Cinta di Pulau Flores? Di Kabupaten Ende ada Bukit Cinta. Waktu saya ke Kota Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat pun ada Bukit Cinta! Cinta memang supa amazing. Tapi yang jelas saya harus menggali informasi lebih dalam tentang perbukitan ini, karena lokasi ini toh seakan berada di antara dua wilayah: Boawae dan Soa.

Selain pemandangan perbukitannya yang keren, juga ada pepohonan yang tumbuh di situ. Sayangnya, saya tidak tahu apa nama pohon ini.


Kalian tahu nama pohon itu? Bagi tatu donk hehehe. Sayangnya ada botol bekas air mineral di situ, tapi itu bukan punya kami hahaha.

Juga Asyik Dibaca: Kawasan Wajib Senyum di Puncak Wolobobo


Lepas foto-foto di negeri para petualang ini, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Boawae. Setelah Yusti dan Thika shalat Dhuhur di Masjid Boawae, saatnya mengisi perut di warung makan Handayani. Handayani merupakan warung makan paling ngetop di Kecamatan Boawae, menu-menunya setara dengan menu warung makan di Kota Ende, harganya juga masuk akal dan masuk kantong. Siang itu saya hanya menikmati semangkuk es campur/es buah. Maklum, jadwal makan saya kan masih lama (malam).

Kalau ditanya, apakah saya akan kembali ke Ae Sale Mengeruda? Ya tentu saya akan kembali! Karena saya masih pengen merendam seluruh tubuh di sana hahaha.

Happy traveling!



Cheers.

Komentar

  1. Andaikan batas antar daerah bisa ditempuh tanpa memakan banyak biaya, kita semua orang Indonesia bisa jadi manusia2 bahagia dan terhindar dari setres ..
    Indahnya tempat2 begini tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dari timur sampai barat, inginnya bisa visit ke sana

    Harus jadi orang kaya dulu untuk menikmati itu semua kalau dari daerah kami 😭, perlu waktu dan biaya.

    Beruntung banyak blogger2 yang mengulasnya, setidaknya ikut merasakan dengan membaca :)

    BalasHapus
  2. Oh jadi namanya Ae Sale Mengeruda... aku taunya sumber air panas SoA Mengeruda.. aku suka air panas disini karena mengalir, paling asyik berendam di bagian pas air terjun mininya itu... Jadi cuma berendam kaki doang kirain berendam kepalanya doang

    BalasHapus

Posting Komentar

Untuk pertanyaan penting dengan respon cepat, silahkan hubungi nomor WA 085239014948 (Chat Only!)