Potensi Hasil Bumi di Desa Mbomba


Program Inovasi Desa (PID) merupakan program yang mengutamakan potensi setiap desa pada masing-masing kecamatan. Kaitannya dengan tulisan ini, tentu kecamatan yang terpeta di Kabupaten Ende tercinta. Tim PID dan pihak kecamatan ibarat corong sekaligus gerilyawan yang turun ke setiap desa untuk mencari tahu, menggali, serta mencari solusi yang solutif bagi masyarakat desa setempat, termasuk pemasaran. Intinya adalah bagaimana caranya agar masyarakat desa berdikari dari memanfaatkan potensi-potensi yang ada baik potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, hingga sumber daya budaya. Ini bukan hal yang terlalu sulit dilakukan karena masyarakat desa kekinian sudah jauh lebih terbuka dan sangat ingin maju.


Dari hasil kerja sama antara Tim PID Kecamatan Ende Utara ↠ Kabupaten Ende, dengan saya, untuk membikin video dokumenter, maka dengan jelas saya jadi tahu banyak hal tentang PID serta potensi desa-desa asuhan. Selain Desa Gheogoma, desa lainnya adalah Mbomba. Dulunya saya, juga mungkin orang lain, keliru tentang letak antara kedua desa ini. Saya sering mengatakan Desa Gheogoma dengan Desa Mbomba, ternyata salah. Haha.


Desa Mbomba yang dulunya saya pikir berlokasi di Desa Gheogoma ternyata berada di dataran tinggi loh. Beda dengan Desa Gheogoma yang berada di tepi pantai. Untuk mencapai ke sana pun arahnya berseberangan dengan arah menuju Desa Gheogoma.

Desa Mbomba


Desa Mbomba merupakan desa di bawah wilayah administratif Kecamatan Ende Utara. Untuk mencapai Desa Mbomba dari pusat kota, atau dari Kantor Kecamatan Ende Utara, check point dari cabang Ndao - Woloare. Kami biasa menyebutnya Cabang Woloare saja. Perjalanan diteruskan - menanjak, satu jalur jalan aspal yang berlubang di beberapa titik, melewati lokasi tambang batu di Samba hingga bertemu cabang jalan rabat dengan papan nama besar Desa Mbomba.


Dari cabang ini, jalan rabat - turunan, satu jalur juga menuju Kantor Desa Mbomba. Menariknya adalah pemandangan yang disuguhkan dari ketinggian Desa Mbomba. Memikat. Saya pikir kenapa masyarakat tidak memanfaatkan pemandangan laut nan indah ini kepada wisatawan ya? Dengan membuka saung-saung dan menawarkan kuliner lokal, misalnya. Ah sudahlah hehe.


Letak Kantor Desa Mbomba - Woroja yang unik haha.

Di kantor Desa Mbomba ini lah saya, dibantu Thika Pharmantara, mendokumentasikan kegiatan kelompok ibu-ibu yang membikin keripik pisang dan keripik ubi (singkong) lokal.

Pengolahan Keripik Ubi dan Pisang


Potensi Desa Mbomba yang diunggulkan oleh Tim PID Kecamatan Ende Utara adalah ubi dan pisang (kapuk, pisang khusus olahan terutama keripik). Sebelum kegiatan pengolahan dua hasil bumi tersebut, dimulai dengan pertemuan bersama antara kelompok ibu-ibu dengan Bapak Camat Ende Utara Bapak Kapitan Lingga beserta staf, pejabat sementara desa, serta Tim PID. 


Setelah pertemuan, termasuk wawancara bersama yang berkepentingan, kegiatan pengolahan keripik ubi dan pisang pun dimulai. 

Saya pikir bakal sulit mengarahkan ibu-ibu di desa ini, ternyata tidak. Mereka sigap. Mereka mendengarkan pengarahan dengan baik. Mereka jadi tahu istilah action dan cut. Hahahah. Bahkan mereka tidak segan bertanya apakah posisinya sudah baik atau belum, apakah mereka harus lebih pelan dalam mengiris atau tidak, dan lain sebagainya. Yang betul-betul harus terus diingatkan adalah bocornya tatapan mata mereka ke kamera. Selain itu ... aman lah.


Mari kita simak pengolahan keripik ubi dan pisang.

1. Mengupas dan Mencuci

Ubi dan pisang dikupas lalu dicuci bersih. Di sini ada dua kelompok. Pertama kelompok ubi. Kedua kelompok pisang. Jadi ingat tim bubur diaduk dan tidak diaduk kan ya hahaha.



2. Mengiris

Khusus untuk mengiris ini berbeda antara ubi dan pisang. Jelas ya hahaha. Maksudnya adalah kalau ubi diiris menggunakan alat khusus menggunakan listrik sedangkan pisang diiris manual.

Alat pengiris ubi.

Pisang masih diiris manual.

3. Dicelup Adonan Telur

Berikutnya, ubi sudah bisa digoreng dengan cara dua kali penggorengan sedangkan khusus pisang masih ada satu tahap lagi. Pisang yang sudah diiris kemudian direndam di adonan kuning telur yang sudah dicampur dengan air dan sedikit pewarna kuning yang aman.


Telaten para ibu ini mencelup pisang di adonan, lantas meletakkan satuper satu irisan pisang di dulang untuk didiamkan beberapa saat.

4. Menggoreng

Seperti yang sudah saya tulis di atas, ubi digoreng dua kali. Pertama di dalam minyak yang sangat panas, kedua di minyak yang panasnya sedang (untuk mematangkan). Sama juga dengan pisang.


5. Dicampur Bumbu Rasa

Bumbu rasa antara ubi dan pisang juga berbeda. Khusus pisang itu bumbunya saya lihat terdiri dari susu bubuk juga (plus gula) sebelum dicampur dengan bumbu rasa (balado misalnya). Sedangkan kalau ubi, harus melewati proses pengeringan minyak dulu yang mana juga menggunakan alat khusus.



6. Pengepakan

Pengepakan atau pembungkusan. Dengan sumber daya yang ada mereka mencetak merek/label dagang. Proses ini sudah cukup moderen (untuk pembungkusan ini). Sudah menggunalan alat khusus begitu.


Sebelum dibungkus ditimbang dulu ya :)

☀☀☀

Potensi hasil bumi di Desa Mbomba ini, menurut saya, dapat dipadukan dengan potensi wisatanya. Memang betul tidak ada atraksi khusus untuk wisata ini selain pemandangan alam (pantai/laut) dari ketinggian Desa Mbomba. Tapi justru itu yang menarik kan ya. Bisa saja di satu area terbuka dengan pemandangan laut itu dibangun saung-saung yang kulinernya bisa jadi keripik ubi dan keripik pisang serta minumnya air kelapa muda.

Kalau itu terjadi ... saya orang pertama yang ke sana. Atau, saya orang yang paling rajin ke sana. Haha.


Kalau kalian sempat datang ke Kabupaten Ende, atau Kota Ende, cobalah minta diajak oleh teman atau guide ke Desa Mbomba :)

Happy traveling.



Cheers.

Komentar



  1. Mba tujuannya apa yah di goreng 2 kali pada minyak dgn panas yang berbeda

    BalasHapus

Posting Komentar

Untuk pertanyaan penting dengan respon cepat, silahkan hubungi nomor WA 085239014948 (Chat Only!)