Rock'n'Rain Sepanjang Ende Menuju Wolowaru


Undangan untuk meliput kegiatan Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Flores (Uniflor) itu pun tiba di ruang kantor UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Kegiatan pengabdian masyarakat itu akan diselenggarakan di Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru. Meskipun kelurahan ini terletak di jantung Kecamatan Wolowaru, yang merupakan jalan trans-Flores, tapi tetap saja jauh dari Ende. Manapula musim sedang sangat suka berbasah-basahan. Tapi pada akhirnya saya memantapkan hati untuk berangkat juga. Intip punya intip, ternyata Mila dan Santy juga menyatakan kesediaan mereka untuk berangkat. Padahal Santy itu dosen Prodi Manajemen yang kegiatannya bakal diselenggarakan satu minggu kemudian di Riung! Benar-benar #KakiKereta melekat sekali pada diri kami-kami ini hahaha. Bertiga ini kalau sudah merencanakan perjalanan, sulit batal.

Baca Juga : Nggela Bangkit dan Membangun Kembali

Hari itu, Jum'at (23 November 2018) saya sudah selesai packing sebuah backpack dengan isi antara lain: satu celana panjang kain, satu kaos lengan panjang, daleman hahaha ini mah wajib hukumnya, handuk kecil, dan tentu saja sarung motif Mangga berukuran besar karena ditenun khusus oleh Kakak Asfur untuk saya. Sarung ini bekal tidur malam karena saya tahu cuaca sedang dingin. Kalian pasti bakal kaget sensasi tidur berbungkus sarung tenun ikat. Tidak lupa tempat makan keluaran Tupperware yang sudah diisi makanan panas sama Thika, kotak kue Tupperware (wualah), termos mini berisi kopi susu, dan botol air minum. Untuk perjalanan yang hanya sehari, karena rencana Sabtu siang saya pulang ke Ende, persiapan saya sudah mantap jiwa-raga haha.

Pukul 12.30 Wita Onif Harem saya pacu menuju Kampus I Uniflor tempat mahasiswa Prodi Akuntansi diberangkatkan. Ada sekitar tujuh bis kayu bersiap berangkat sedangkan saat itu antara gerimis dan hujan tetap membasahi bumi. Hari itu antara gerimis dan hujan memang sedang lomba-lombaan siapa yang paling bikin kesal umat manusia, haha. 

Mahasiswa/i siap naik bis kayu. Tulisan di bawah pelatnya dooonk: Alegi Alegi Mantan.
Entah apa artinya. Ada yang tahu?

Karena Santy harus membonceng Mila, maka kami bertiga berangkat ke rumah Mila terlebih dahulu untuk menyimpan sepeda motornya, barulah berangkat. Saat berangkat hujan masih turun cukup deras, maka kami memutuskan untuk segera mengenakan mantel super lengkap, qiqiqiq. Penampakan kami bukan kayak orang yang hendak melakukan perjalanan jauh, melainkan lebih mirip tentara siap perang. Kurang senjatanya saja.


Di tengah perjalanan sekitar dua puluhan kilometer melepas Kota Ende ke arah Barat, kami berhenti untuk membeli kresek merah yang diidolakan orang-orang kalau ke pasar. Tring, muncul ide agar sepatu saya tidak basah (lagian ini juga sudah tahu hujan malah tidak membawa sandal Crocs andalan atau pakai sepatu boot malah pakai sepatu kanvas). Saya meminta dua kresek merah itu untuk dipasangkan ke kaki sebagai pengganti boot plastik yang biasa dipakai petani ke sawah itu haha. Bikin heboh saja. Yang heboh malah si Santy. Teriak-teriak:

Encim! Encim! SAYA MAU FOTO DULUUUU!!! Aaaakkkk.

Sabar! Nanti lah di Lepa Lio Cafe!

Baca Juga : Coconut Garden Beach Resort

Rencananya, Santy dan Mila minta mampir di Lepa Lio Cafe. di Kecamatan Detusoko gara-gara melihat foto saya nongkrong di situ sepulang dari Kampung Adat Nggela pada Selasa (20 November 2018). Mereka pengen ngopi dan nongkrong di situ juga. Secara akal sehat, kan lucu hujan-hujan kita mampir ngopi di Lepa Lio Cafe sementara rombongan sudah hampir tiba di Kelurahan Bokasape. Tapiiii bukan kami namanya kalau bertingkah terlalu mengikuti 'jalur lurus'. Lucky us! Nando Watu si penggagas RMC ada di kafe itu sedang berada di lokasi, ditemani oleh Eka yang baru saja pulang dari New York. Yuhu! Lebih lucky lagi karena bertemu Aram dari Kelas Blogging NTT Angkatan II yang mentraktir aksi ngopi-ngopi ini. Kok bisaaaa ya ketemu di Kecamatan Detusoko sementara di Kota Ende saja kita jarang ketemu ya, Aram. Hahah. Terima kasih, kalian semua sangat baik.


Sambil ngopi, saya sambil mengobrol dengan Nando Watu, bercerita banyak hal tentang social enterprise yang bakal saya tulis di pos terpisah. Pokoknya kisahnya sangat keren, sampai saya catat di notes Xiaomi, dan berusaha mengejar ketikan dengan kisah yang ditutur.


Usai ngopi, dan secara telepon yang terhubung menyatakan bahwa rombongan sudah tiba di Kelurahan Bokasape, perjalanan kami masih sangat jauh, kami bertiga segera pamit untuk melanjutkan perjalanan.


Jangan berharap hujan berhenti, kawan. Perjalanan dari Kota Ende menuju Kelurahan Bokasape di Kecamatan Wolowaru ini sama sekali tidak dihiasi penampakan langit biru sedikit pun. Kami benar-benar rock'n'rain sepanjang perjalanan itu. Jalanan dipenuhi air yang mengalir karena sepanjang jalan trans-Flores banyak titik yang tidak dilengkapi dengan got/selokan sehingga air mencari jalannya sendiri ke jalan dan ke persawahan. Belum lagi kalau ada kubangan dengan posisi bertemu kendaraan dari depan. Saling mencipratkan air kubangan tidak terelakkan. Mana pula jalanan licin dan saat hendak memasuki Desa Moni jarak pandang menjadi lebih dekat, sekitar lima sampai sepuluh meter saja, karena kabut turun ke aspal. Menyalakan lampu itu wajib, plus lampu sein harus turut menyala. Kalau tidak hati-hati, kalian tahu akibatnya kan. Yang saya takutkan hanya satu: petir. Alhamdulillah sepanjang perjalanan kemarin tidak ada petir yang saling sambar.


Untungnya ketika meninggalkan Desa Moni menuju Kecamatan Wolowaru, kabut perlahan menghilang karena jalanan yang kami lewati mulai turunan. Kecepatan sepeda motor semakin menjadi. Gas pooool.

Tiba di Kelurahan Bokasape, di jantung Kecamatan Wolowaru, kegiatan sudah dimulai. Untungnya masih bisa meliput penyambutan ini. Tentu, setelah orang-orang dengan anehnya melihat 'sepatu boot warna merah' yang saya pakai. Mau juga? Murah kok, hanya empat ribu sepasang! Hahaha. Setelah melepas semua atribut 'perang', saya pun langsung meliput kegiatan tersebut. 


Baca Juga : 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Ichsan Abdillah Hatta, S.E., Lurah Kelurahan Bokasape, masih terhitung keponakan saya. Sehingga tidak heran dia memanggil saya dengan sebutan 'Encim' juga hehe. Kami bertiga, ditambah Mama Ina dan Kakak Olin, ditempatkan di sebuah rumah yang nyaman dan kamar yang bersih dan luas. Asyiiik. Manapula tuan rumahnya baik hati pula. Si isteri adalah seorang guru dan adiknya adalah dosen di Uniflor. Baiklah, mari kita rayakan perjalanan super basah sepanjang Ende ke Wolowaru tanpa jeda berhenti (hujan/gerimis) sedetik pun.

Bagi kalian yang belum seberapa hafal / sering melakukan perjalanan ini, sangat tidak saya sarankan melakukan perjalanan darat dengan sepeda motor saat hujan. Biarlah kami saja yang merasakannya; basah-basahan sekitar tiga jam lebih itu.

Kisah lainnya tentang perjalanan baik ke Kampung Adat Nggela maupun ke Kelurahan Bokasape serta mengunjungi Om Ludger di Puskesmas Lepembusu bakal saya tulis di pos terpisah.


Cheers.

Komentar

  1. Seru sekali perjalanannya, padahal 20km, tp ky berasa jauh ya, padahal di ibukota jawa, jarak segitu bisa dibilang dekat. Tp liat di GPS nampak jauh, mendaki gunung lewati lembah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheh bukan 20, kalau 20-an itu sebelum detusoko, kalau sampai Wolowaru 65 kilometer, Kak :D

      Hapus
    2. Hai, lmyn juga, itu seperti Ancol ke Bogor kalau di sini

      Hapus
    3. Iya, Kakak. Lumayan jauh hehehe :D mana medannya juga lumayan berat ...

      Hapus
  2. rock masih mending dibanding dengan lumpur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheh betul :D Lumpur itu bikin jalanan licin bukan main ...

      Hapus
  3. Langsung fokus ke sepatunyaaa, totalitas sekali kak Tuteh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huwahahah kalau tidak begitu, berabe berat lah sepatu kuyup :D

      Hapus
  4. Ine jujur saya tidak membacanya dengan seksama, alasannya adalah fokus saya teralihkan dengan foto ine Tuteh yang pertama, (dalam hati) "ale ine yang satu ini manusia paling gokil si ee...ada aja gayanya, saya sebutnya menikmati hidup tanpa harus mengeluh, kira-kira seperti itu kesan saya melihat foto dan senyum cantik ine di atas.

    Lantas melihat mobil kayu itu (lihat foto berikutnya), ampun mama yo, barang ini masih adakah, ingat saat jual kemiri ke kota kwkwkwk, wuhuuiii, kampung halaman se...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aahhahahah betul Pak Martin, kalau saya sih bagaimana caranya agar yang ke depan bisa berjalan baik; dari pada mengeluh sepatu basah, mending saya pasangkan plastik kan supaya tidak basah :D Hahaha bis kayu masih ada dan masih jadi favorit kalau anak-anak mahasiswa berangkat ke lokasi pengabdian masyarakat, Pak guru! :D jadi ingat kampung halaman eeeee :P

      Hapus
    2. Masa depan ditentukan oleh cara "memandang" hari ini, benar-benar tipe orang lapangan. Mama yo, bis kayu dan cerita jual kemiri hihkhihk, kapan tempo memori bis kayu jadi updatean blog ya hehehe menghayal dulu ah..

      Hapus
  5. seru juga ya blogger diajak ikut acara memantau mahasiswa jalan jalan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahah bukan blogger, tapi karena memang kerjaan saya di situ buat meliput berbagai kegiatan kampus :D

      Hapus

Posting Komentar

Untuk pertanyaan penting dengan respon cepat, silahkan hubungi nomor WA 085239014948 (Chat Only!)